Kamis, 27 November 2025

Recount text

Experience Serving in the Church


Orientation

Hello friends, do you know what Saint Mary Ways is? For those who haven't heard of it, Saint Mary Ways (SMW) is a special program at SMP Santa Maria Bandung. This program is designed to help us as students fulfill our co-curricular requirements while simultaneously practicing the values ​​taught by Mother Mary in our daily lives. Through this activity, we are encouraged to learn not only through theory in the classroom but also through direct experience in the field. This is expected to foster students' sense of caring, empathy, and a willingness to serve others.

In this SMW program, all ninth-grade students are divided into groups and placed in various service locations. Some are placed at the Nazareyt Nursing Home, an orphanage, serving as altar servers, daycare, and even teaching in Sunday school. These groups are divided based on the church they attend, their area of ​​residence, and the type of activity they will be involved in. The size of each group also varies. Some groups are very large, with up to 21 members, others are medium-sized, with 3 or 4 members, and some even consist of just 1 or 2 members.
On Sunday, September 14th, I was given the opportunity to serve in Kamuning Church during the Mass. That day, I was assigned to carry the processional cross, a responsibility that made me feel grateful and proud. A few days later, on Wednesday, September 17th, I served again in the Daily Mass. Although the tasks were simple, they held deep meaning for me. My final service during that period took place on Wednesday, November 1st, also in the Daily Mass. All three occasions became valuable moments that helped me grow in my faith.




Events

During every Mass I served, I noticed the warm smiles of the people who attended, reflecting sincerity and devotion. I listened to the choir singing beautifully, creating an atmosphere that felt peaceful and full of gratitude. In my heart, I felt a sense of warmth and serenity as I served as an acolyte.
On Sunday Mass, I carried the cross during the entrance procession and helped prepare the second offering. On the Daily Masses, I was assigned to bring the first and second offerings. Even though the tasks seemed small, they had important liturgical roles, and I tried to perform each one with care and responsibility.
Through this experience, I learned the values of Mary—especially service and faithfulness. Serving at the altar helped me understand what it means to give my time, energy, and heart to God, just as Mary did with humility and love. I also felt God’s presence in many ways: through the peace in my heart, the smiles of the congregation, and the choir’s uplifting songs that made the Mass feel sacred and alive.


Reorientation

From this journey, I discovered that I am capable of offering meaningful service to the Church. I learned to be more disciplined, responsible, and willing to take part in the liturgy. Serving God brought me a unique joy that strengthened my faith. After these experiences, I want to continue serving in my daily life by joining more church activities, such as the choir, altar server ministry, or youth group. Through serving, I feel closer to God and continue to grow as a person. 

Selasa, 18 November 2025

SMW ( Saint Mary Way)



Pengalaman Iman yang Menguatkan


1. Bagian SEE


Pada hari Minggu, 14 September, saya mendapatkan kesempatan untuk melayani dalam Misa Hari Raya di Gereja Kamuning. Hari itu menjadi salah satu momen yang sangat berkesan bagi saya, karena saya dipercaya untuk menjadi pemegang salib dalam perarakan masuk. Tugas ini bukan sekadar membawa salib, tetapi juga menjadi tanda bahwa saya turut mengambil bagian dalam liturgi yang kudus. Saat berdiri di depan, memimpin barisan misdinar dan imam, saya merasakan rasa bangga yang sulit dijelaskan, seolah Tuhan mempercayakan kepada saya sebuah tugas kecil namun penuh makna. Perasaan haru dan sukacita itu menyertai saya hingga Misa selesai.


Beberapa hari kemudian, tepatnya pada Rabu, 17 September, saya kembali mendapat tugas dalam Misa Harian. Pelayanan kali ini lebih sederhana dibandingkan Misa Hari Raya, namun justru dalam kesederhanaan itulah saya menemukan makna mendalam. Tidak ada keramaian umat seperti hari Minggu, tetapi keheningan Misa Harian membawa suasana doa yang lebih pribadi. Saya bertugas membawa persembahan pertama dan kedua, sebuah tugas kecil namun tetap penting dalam rangkaian liturgi. Di saat-saat seperti ini, saya belajar bahwa pelayanan tidak harus selalu besar dan mencolok. Bahkan tindakan kecil sekalipun dapat menjadi persembahan yang indah kepada Tuhan.


Tugas terakhir pada periode itu saya jalankan pada Rabu, 1 November, juga dalam Misa Harian. Misa ini menjadi penutup rangkaian pelayanan saya selama beberapa minggu. Meski hanya bertugas beberapa kali, setiap kesempatan memberikan pengalaman berharga bagi perkembangan iman saya. Ketiga Misa tersebut membuat saya semakin memahami pentingnya peran seorang misdinar dalam liturgi Gereja.


Dalam setiap pelayanan yang saya jalani, saya selalu memperhatikan suasana di gereja. Saya melihat umat datang dengan senyum hangat, penuh kesederhanaan dan ketulusan. Saya mendengar paduan suara menyanyikan lagu-lagu pujian dengan merdu, menciptakan suasana khidmat yang membantu umat masuk dalam doa. Semua pemandangan dan suara itu membuat hati saya merasa damai. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, seolah Tuhan hadir di tengah-tengah kami melalui setiap nyanyian, setiap doa, dan setiap gerakan kecil liturgi yang kami lakukan bersama.


Saat memegang salib dalam prosesi, saya selalu berusaha menjaga langkah agar rapi dan penuh hormat. Dalam persembahan, saya memastikan setiap benda liturgi dibawa dengan benar sesuai tata cara yang berlaku. Meski terlihat sederhana, saya belajar bahwa setiap detail dalam liturgi memiliki makna yang dalam. Karena itu, saya berusaha untuk melayani dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, dan tanpa tergesa-gesa. Pelayanan yang baik bukan hanya soal melakukan tugas, tetapi juga soal kesiapan hati.


2. Bagian JUDGE


 Dalam kegiatan Saint Mary Way, saya menemukan dua nilai utama dari Bunda Maria yang sangat menginspirasi, yaitu melayani dan setia. Bunda Maria menunjukkan kesetiaan total kepada Tuhan sejak awal hidupnya. Melalui pelayanan saya sebagai misdinar, saya mencoba meneladani sikap itu. Dengan melayani di altar, saya belajar memberikan waktu, tenaga, dan hati kepada Tuhan, sama seperti Bunda Maria yang selalu siap melayani dengan cinta dan kerendahan hati. Nilai kesetiaan juga saya rasakan ketika menjalankan tugas-tugas saya secara konsisten meski kadang ada rasa lelah atau kesulitan.

Di setiap pelayanan, saya merasakan kehadiran Allah dalam beberapa cara. Pertama, dalam diri saya sendiri. Ada kedamaian yang muncul begitu saja saat saya melayani, seolah Tuhan sedang meneguhkan langkah saya. Kedua, melalui senyum umat. Senyum kecil yang tampak sederhana itu membuat saya merasa bahwa Tuhan hadir melalui kebersamaan kami sebagai umat-Nya. Ketiga, melalui nyanyian paduan suara yang merdu. Suara mereka menjadikan suasana Misa lebih hidup, sakral, dan penuh sukacita.

Melalui semua ini, saya belajar bahwa saya ternyata mampu memberikan pelayanan yang berarti bagi Gereja. Saya belajar lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berani mengambil bagian dalam liturgi. Pelayanan kepada Tuhan membawa sukacita tersendiri. 



3. Bagian ACT


Melalui semua ini, saya belajar bahwa saya ternyata mampu memberikan pelayanan yang berarti bagi Gereja. Saya belajar lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berani mengambil bagian dalam liturgi. Pelayanan kepada Tuhan membawa sukacita tersendiri  yang tidak bisa dibandingkan dengan hal lain. Setelah melalui pengalaman ini, saya bertekad untuk terus melayani Tuhan dalam hal kecil maupun besar. Saya ingin mengikuti lebih banyak kegiatan Gereja seperti paduan suara, misdinar, dan OMK. Melalui pelayanan, saya merasa semakin dekat dengan Tuhan dan berkembang sebagai pribadi. Saya percaya bahwa setiap tindakan kecil dalam pelayanan dapat menjadi sarana Tuhan untuk membentuk hati saya. 

Selasa, 11 November 2025

Cara persiapan ulangan

Halo semuanya aku Arya jika kalian belum mengenal saya kalian bisa klik 

linkhttps://www.blogger.com/u/1/blog/post/edit/1850444502960940330/122636983863409792

 ini Ulangan merupakan salah satu cara untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Oleh karena itu, persiapan yang matang sangat diperlukan agar hasil yang diperoleh memuaskan. Tanpa persiapan, siswa bisa mengalami kesulitan dalam menjawab soal dan merasa cemas saat menghadapi ulangan. Dengan perencanaan yang baik, belajar menjadi lebih terarah dan tidak terburu-buru.

Langkah pertama dalam mempersiapkan ulangan adalah mengatur jadwal belajar. Siswa sebaiknya membuat jadwal yang seimbang antara waktu belajar, istirahat, dan kegiatan lainnya. Dengan jadwal yang teratur, semua mata pelajaran bisa dipelajari secara bergantian tanpa ada yang terlewat. Selain itu, belajar dalam waktu yang singkat tetapi rutin setiap hari lebih efektif daripada belajar semalam suntuk sebelum ulangan.


Selain membuat jadwal, memahami kembali materi yang telah diajarkan juga sangat penting. Siswa dapat membaca ulang catatan, membuka buku pelajaran, atau berdiskusi dengan teman tentang materi yang belum dipahami. Mengulang pelajaran membantu otak mengingat lebih lama dan membuat siswa lebih siap menghadapi berbagai jenis soal. Jika ada bagian yang sulit, jangan ragu untuk bertanya kepada guru.


Latihan soal juga menjadi bagian penting dalam persiapan ulangan. Dengan mengerjakan soal-soal latihan, siswa dapat mengukur kemampuan mereka dan mengetahui bagian mana yang masih lemah. Selain itu, latihan soal membantu siswa terbiasa dengan bentuk pertanyaan yang mungkin muncul dalam ulangan nanti. Semakin sering berlatih, semakin besar pula rasa percaya diri yang dimiliki saat ujian berlangsung.

Terakhir, menjaga kesehatan fisik dan mental juga tidak boleh diabaikan. Tidur yang cukup, makan makanan bergizi, dan berolahraga ringan dapat membantu tubuh tetap bugar dan pikiran tetap fokus. Hindari belajar terlalu larut malam karena dapat mengganggu konsentrasi keesokan harinya. Dengan persiapan yang baik dan sikap tenang, ulangan dapat dijalani dengan lebih percaya diri dan hasilnya pun akan maksimal.