Selasa, 18 November 2025

SMW ( Saint Mary Way)



Pengalaman Iman yang Menguatkan


1. Bagian SEE


Pada hari Minggu, 14 September, saya mendapatkan kesempatan untuk melayani dalam Misa Hari Raya di Gereja Kamuning. Hari itu menjadi salah satu momen yang sangat berkesan bagi saya, karena saya dipercaya untuk menjadi pemegang salib dalam perarakan masuk. Tugas ini bukan sekadar membawa salib, tetapi juga menjadi tanda bahwa saya turut mengambil bagian dalam liturgi yang kudus. Saat berdiri di depan, memimpin barisan misdinar dan imam, saya merasakan rasa bangga yang sulit dijelaskan, seolah Tuhan mempercayakan kepada saya sebuah tugas kecil namun penuh makna. Perasaan haru dan sukacita itu menyertai saya hingga Misa selesai.


Beberapa hari kemudian, tepatnya pada Rabu, 17 September, saya kembali mendapat tugas dalam Misa Harian. Pelayanan kali ini lebih sederhana dibandingkan Misa Hari Raya, namun justru dalam kesederhanaan itulah saya menemukan makna mendalam. Tidak ada keramaian umat seperti hari Minggu, tetapi keheningan Misa Harian membawa suasana doa yang lebih pribadi. Saya bertugas membawa persembahan pertama dan kedua, sebuah tugas kecil namun tetap penting dalam rangkaian liturgi. Di saat-saat seperti ini, saya belajar bahwa pelayanan tidak harus selalu besar dan mencolok. Bahkan tindakan kecil sekalipun dapat menjadi persembahan yang indah kepada Tuhan.


Tugas terakhir pada periode itu saya jalankan pada Rabu, 1 November, juga dalam Misa Harian. Misa ini menjadi penutup rangkaian pelayanan saya selama beberapa minggu. Meski hanya bertugas beberapa kali, setiap kesempatan memberikan pengalaman berharga bagi perkembangan iman saya. Ketiga Misa tersebut membuat saya semakin memahami pentingnya peran seorang misdinar dalam liturgi Gereja.


Dalam setiap pelayanan yang saya jalani, saya selalu memperhatikan suasana di gereja. Saya melihat umat datang dengan senyum hangat, penuh kesederhanaan dan ketulusan. Saya mendengar paduan suara menyanyikan lagu-lagu pujian dengan merdu, menciptakan suasana khidmat yang membantu umat masuk dalam doa. Semua pemandangan dan suara itu membuat hati saya merasa damai. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, seolah Tuhan hadir di tengah-tengah kami melalui setiap nyanyian, setiap doa, dan setiap gerakan kecil liturgi yang kami lakukan bersama.


Saat memegang salib dalam prosesi, saya selalu berusaha menjaga langkah agar rapi dan penuh hormat. Dalam persembahan, saya memastikan setiap benda liturgi dibawa dengan benar sesuai tata cara yang berlaku. Meski terlihat sederhana, saya belajar bahwa setiap detail dalam liturgi memiliki makna yang dalam. Karena itu, saya berusaha untuk melayani dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, dan tanpa tergesa-gesa. Pelayanan yang baik bukan hanya soal melakukan tugas, tetapi juga soal kesiapan hati.


2. Bagian JUDGE


 Dalam kegiatan Saint Mary Way, saya menemukan dua nilai utama dari Bunda Maria yang sangat menginspirasi, yaitu melayani dan setia. Bunda Maria menunjukkan kesetiaan total kepada Tuhan sejak awal hidupnya. Melalui pelayanan saya sebagai misdinar, saya mencoba meneladani sikap itu. Dengan melayani di altar, saya belajar memberikan waktu, tenaga, dan hati kepada Tuhan, sama seperti Bunda Maria yang selalu siap melayani dengan cinta dan kerendahan hati. Nilai kesetiaan juga saya rasakan ketika menjalankan tugas-tugas saya secara konsisten meski kadang ada rasa lelah atau kesulitan.

Di setiap pelayanan, saya merasakan kehadiran Allah dalam beberapa cara. Pertama, dalam diri saya sendiri. Ada kedamaian yang muncul begitu saja saat saya melayani, seolah Tuhan sedang meneguhkan langkah saya. Kedua, melalui senyum umat. Senyum kecil yang tampak sederhana itu membuat saya merasa bahwa Tuhan hadir melalui kebersamaan kami sebagai umat-Nya. Ketiga, melalui nyanyian paduan suara yang merdu. Suara mereka menjadikan suasana Misa lebih hidup, sakral, dan penuh sukacita.

Melalui semua ini, saya belajar bahwa saya ternyata mampu memberikan pelayanan yang berarti bagi Gereja. Saya belajar lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berani mengambil bagian dalam liturgi. Pelayanan kepada Tuhan membawa sukacita tersendiri. 



3. Bagian ACT


Melalui semua ini, saya belajar bahwa saya ternyata mampu memberikan pelayanan yang berarti bagi Gereja. Saya belajar lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berani mengambil bagian dalam liturgi. Pelayanan kepada Tuhan membawa sukacita tersendiri  yang tidak bisa dibandingkan dengan hal lain. Setelah melalui pengalaman ini, saya bertekad untuk terus melayani Tuhan dalam hal kecil maupun besar. Saya ingin mengikuti lebih banyak kegiatan Gereja seperti paduan suara, misdinar, dan OMK. Melalui pelayanan, saya merasa semakin dekat dengan Tuhan dan berkembang sebagai pribadi. Saya percaya bahwa setiap tindakan kecil dalam pelayanan dapat menjadi sarana Tuhan untuk membentuk hati saya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar